BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
India khususnya Lembah Indus, merupakan
tempat lahirnya peradaban dunia yang tertua,. Zaman perunggu muncul disana
sekitar tahun 2500 SM. Penggalian Arkeologi menunjukan peninggalan-peninggalan
yang menyingkapa peran Lembah Indus sebagai pusat kebudayaan besar. Dari
peninggalan-peninggalan diketahui bahwa tidak terdapat gejolak, perkembangan
terlalu hebat,Lembah Indus merupakan kawasan yang subur.
Antara tahun 1700 hingga 1400SM terjadi
gelombang migrasi bangsa Arya yang memasuki India lewat pegunungan Hindu Kush
di utara. Mereka kemudian menduduki lembah-lembah subur di daerah percabangan
samapai Indus. Suku Arya dikenal sebagai suku bangsa yang gemar
perperang, mereka menemukan kuda dan kereta untuk perang. Itulah sebab nya
mereka dengan mudah mengalahkan musuh-musuhnya. Mereka kemudian mengalami
transformasi, dari masyarakat nomad menjadi masyarakat petani yang menetap.
Kehadiran mereka lama-lama mendesak penduduk asli, yakni suku Dravida, kearah
selatan. Konflik Bansa Arya dan Dravida terekam dalam epos Mahabrata dan
Ramayana.
Dalam perkembangan
selanjutnya, terciptalah system kelas. Para kepala suku bertanggung jawab
meneruskan perjuangan melawan suku asli. Kemudian muncul kelas imam, ketika
Brahmanisme, dengan ritualismenya, menjjadi semakin penting. Bersam itu pulu
muncul berbagai tradisi lisan, yang kemudian dikumpulkan yang kita kenal
sebagai Veda. (Sandiwan S.Brata 19-21)
Filsafat Yunani seperti halnya kegiatan
berfilsafat itu sendiri, bertolak dengan kenyataan yang dialami sehari-hari.
Tapi sebagai system pemikiran, kedua filsafat itu berbeda. Orang Yunani dan
India sama-sama berfilsafatuntuk mencari kebenaran. Tapi, ada perbedaannya,
orang Yunani mencari kebenaran sebagai kebenaran, sedangkan orang India mencari
kebenaran untuk melapaskan diri dari dunia. Filsafat India tidak mengajarkan
seseorang untuk menguasai alam, tetapi untuk berteman dengan alam . mendidik
seseorang agar mempunyai kearifan local dalam menelaah masalah hidup. Banyaknya
catatan sejarah yang hilang serta kurangnya tokoh India zaman dulu yang kurang
menuliskan kisahnya menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi pengkaji
filsafat India.
Cukup banyak kesalahpahaman
terjadi dalam memandang filsafat India. Filsafat India sering dikaitkan dengan
mistik tanpa adanya logika, berdasarkan instuisi supranatural, hanya filsafat
pemujaan sakti, yaitu kekuatan dewi dalam bentuk energi. Berkembangnya filsafat
India membuktikan eksistensi mereka yang benar-benar menggedepankan nilai-nilai
spiritual, cinta kasih dan persaudaraan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan Peradaban India?
2. Sebutkan
ciri-ciri Filsafat India ?
3. Sebutkan
metode Filsafat India?
4. Sebutkan
beberapa aliran Filsafat India?
C. Tujuan
1. Untuk
dapat memahami pengertian peradaban islam.
2. Untuk
dapat mengetahui cirri-ciri Filsafat India.
3. Untuk
dapa memahami metode Filsafat India.
4. Untuk dapat mengetahui aliran di dalam Filsafat India.
BAB II
PEMBAHASAN
1.PERADABAN INDIA
Perkembangan
Filsafat India dibagi dalam lima kurun sebagai berikut:
1. Kurun
Veda (2000SM-600SM).
2. Kurun
Reaksi (600SM-300M).
3. Kurun
Purana (300-1200M).
4. Kurun
islam (1200-1757M).
5. Kurun
Modern (1757-1968)
1. Kurun
Veda (2000-600 M)
Veda adalah tradisi sastra yang merupakan
hasil perjumpaan antara bangsa Arya yang berbahasa indo-Eropa dan kebudayaan
Dravida. Veda dinyanyikan, di ucapkan, dan ditulis dalam bahasa. Vedik, yakni
bahasa kuno Indo-Arya dari bahasa sangsekerta. Veda terdiri dari empat kumpulan
yakni.
1. Rg Veda: kumpulan
puji-pujian yang diresitasi.
2. Sama Veda: kumpulan himne yang dilahirkan.
3. Yaajur Veda:
kumpulan rumusan-rumusan untuk kurban.
4. Atharva
Veda: kumpulan rumusan-rumusan magis.
Dimasa ini,
diwariskan pula tiga kitab lain yang penting kedudukannya dala Hinduisme,
yakni:
1. Bhrahmana: kitab yang berisi spekulasi tentang kurban dan
kedudukan imam-imam.
2. Aryanyaka: naskahh-naskah esoteric yang merupakan hasil
refleksi kaum vanaprastha (penghuni hutan). Kitab ini menekankan arti batiniah dan
simbolis dari kurban.
3. Upanishad: ini
merupakan kelanjutan dari Aryaaka. Jadi, merupakan menutup dari Veda. Terakhir
secara kronologis maupun teleoligis. Segala revelasi Hindu mencapai
kesempurnaannya pada Upanishad. Itulah sebabnya Upanishad sering disebut juga Vedanta (akhir atau
pemenuhan Veda, baik secara temporal maupun teleoligis).
Metode dalam Upanishad adalah introspektif,
dengan titik tolak pengalaman berfikir manusia dan fakta kesadaran manusia.
Tema pokok Upanishad adalah hakekat berfikir keakuan dan hubungannya dengan
kesadaran. Tuhan, dalam Upanishad dilukiskan sebagai penguasa batin yang tak
dapat mati atau sebagai benang yang melewati segala benda dan mengikat mereka
bersama. Dialah kebenaran sentral dan eksistensi bernyawa dan
tidak bernyawa, dan karenanya dia tidak hanya transenden tapi juga imanen.
Dialah pencipta dunia, tetapi ia memunculkan dunia itu dari dirinya sendiri
sebagai lebah-lebah membuat jaringan sarangnya . (sastrapratedja:5-6)
Upanishad bukan semata-mata hasil dari para
Brahmana, tetapi sudah di pengaruhi oleh unsure luar Brahmana. Ajaran dari
Upanishad tidak boleh disampaikan kepada sembarang orang, kecuali orang Aryadan
merka yang telah maju di bidang agama.
2. Kurun
Reaksi (600SM-300M)
Pada abad 7 dan abad
5 SM, kehidupan intelektual dan spiritual dunia berkembang. Di Yunani, muncul
filsafa-filsafat alam. Di Palenstina muncul para nabi. Di Cina tampil
Confusius, dan di Persia, muncul tokoh Zarathustra. Di India, muncul
pemikiran-pemikiran Upanishad dan pengajar yang kurang ortodoks. Muncullah
Jainisme dan Budhisme yang memberikan ajaran dan aturan baru untuk mencapai
keselamatan.
Pada kurun waktu itu
struktur masyarakat lama mengalami keguncangan. Muncul sejumlah kerajaan kecil.
Ada semacam rasa pesimisme di bidang kebudayaan dan keagamaan. Msih ada
perbedaan pandangan dikalangan ahli tentang latar belakang ketidak puasan dan
disentregrasi dalam masyarakat. Tapi salah satu alasannya, adalah meluasnya
ajaran tentang inkarnasi sehingga orang ingin melepaskan diri dari lingkaran
kelahiran kembali. Pada kurun waktu itu struktur masyarakat lama mengalami
keguncangan. Muncul sejumlahkerajaan kecil. Ada semacam rasa pesimisme di
bidang keagamaan dan kebudayaan. Masih ada perbedaan pandangan dikalangan ahli
tentang latar belakang ketidak puasan dan disentegrasi dalam masyarakat. Tapi
salah satu alsannya, meluasnya ajaran tentang inkarnasi sehiingga orang ingin
melepaskan diri dari lingkaran kelahiran kembali.
Pendiri Budhisme
adalah Sidharta Guatama (558-478). Dia berasal dari keluarga Shakya. Kitab suci
atau kanon Budhisme dinamakan tripitaka, yang terdiri atas sutra (kumpulan
khotbah Budah),vinaya (undang-undang untuk para muni dan upasaka), dan abhidharma
(metafisik dan psikologi).
3. Kurun
Purana Darsana (300-1200M)
Pada masa ini muncul pemikiran filosofis.
Filsafat India menjadi sadar diri. Logika dan epistemology muncul sebagai
bagian dari filsafat. Ciri pertumbuhan baru ini antara lain disebabkan oleh
Jainisme dan Budhisme. Hampir semua system filsafat mencurahkan perhatian pada
apa yang dinamakan pramana. Pramana berarti cara-cara esensial untuk pencapai
pengetahuan yang sah (prama). Objek yang diketahui disebut prameya, sedangkan
orang yang mengetahui dinamakan pramata.
Hasil yang dicapai Pramana adalah
darsana, yang secara harafiah berarti penglihatan atau pint of view. Jadi,cita-cita
filsafat india adalah visi langsung darri kebenaran terakhir. Filsafat
diharapkan menjadi pengalaman langsung, kata Darsana berarti pendapat
filosofis.
4. Kurun
Islam (1200-1757M)
Perkembangan filsafat India pada
zaman ini ada dua pemikiran yang berkembang, yaitu pemikiran yang mencoba
menggembangkan suatu ajaran (agama) universal. Pemikiran yang lain pemikiran
yang terjadi perpaduan antara ajaran Islam dan Hinduisme. Di kemudian hari
ajaran pemikiran ini berkembang menjadi aliran Sikh
Tokoh yang cukup menonjol dalam periode
ini adalah Kabir dan guru Nanak, Kabir mencoba untuk mengembangkan suatu agama
universal. Sedangkan guru Nanak adalah aliran Sikh, yang berusaha yang berusaha
menyerasikan Islam dan Hidunisme.
5. Kurun
Modern (1757-1968)
Dalam periode ini terlihat kecendrungan
untuk menghidupkan kembali nilai-nilai klasik india, bersamaan dengan berbagai
pembaruan social-politik. Tokoh –tokoh penting dalam periode ini antara lain:
1. Raja Ram
Mohan Roy (1772-1833).
2. Vivekanda
(1863-1902).
3. Gandhi
(1869-1948).
4. Rabindranath
Tagore (1861-1941).
5. Raadhakrishnan
(1888-1975).
Roy mengajarkan menoteisme berdasarkan Upanishad dan moral
berdasarkan khotbah di Bukit dari Injil. Vivekanda mengajarkan bahwa semua
agama benar,tapi agma yang cocok untuk India adalah Hindu.
2. CIRI-CIRI FILSAFAT INDIA
Profesor Radhakrishnan memberikan tujuh
ciri untuk seluruh system fislafat india, yakni:
1. Motif
Spritual
Mendasari seluruh
system fisasat india maupun kehidupan masyarakat. Kecuali aliran Carvaka,semua
aliran lain mengakui esensi spiritual. Itulah sebabnya, penghayatan agama sangat
erat kaitan nya denganusaha filosofis, filsafat india.
2. Sikap
Introspektif dan pendekatan introspektif terhadap realitas
Filsafat dipahami sebagai atmavidya,
yakni pengetahuan akan diri. Oleh karna itu, yang menonjol adalah
subjektivitas. Itulah pula sebabnya, psikolog dan etika dianggap lebih penting
dari pada ilmu pengetahuan alam atau ilmu pengetahuan positif yang juga tetap
digeluti.
3. Mengakui
hubungan erat antar hidup dan filsafat
Filsafat tidak dianggap sebagai sekedar
sport otak, tapi merupakan usaha mencari kebenaran yang dapat membebaskan
manusia. Ini suatu bentuk pragmatism, tapi bukan berarti bahwa kebenaran diukur
menurut kepraktisanya,tapi kebenaran itu diakui sebagai satu-satunya petunjuk
untuk praksis kehidupan.
Menurut paham fisafat india, kebenaran
membawa keselamatan. Keselamatan berarti bebas dari penderitaan, kelahiran
kembali, atau kebahagiaan abadi, itu terwujud manakala jiwa mencapai kemurnian
semula, atau bila terjadi identifikasi dengan yang absolute, persatuan dengan
Tuhan, atau bila jiwa mencapai eksistensi abadinya.
4. Idealis
Filsafat India, khusus nya hindunisme,
mengarah kepada monisme ideal. Apa yang kelihatan sebagai pluralism dan
kontradiktoris sebetulnya merupakan bentuk-bentuk ekpresi, tapi semuanya itu
menyembul dari keyakinan dasar yang satu yang mempersatukan semua system
filsafat India secara keseluruhan.
5. Memberikan
peran sentral terhadap intuisi
Hanya intuisi mampu menyingkap kebenaran
tertinggi. Tidak berarti bahwa peran akal ditolak. Pengetahuan intelektual
dianggap tidak mencukupi, oleh sebab itu kata yang tepat untuk filsafat adalah darsana,
berasal dari kata drs yang berarti melihat, mengalami secara intuitif. Akal
mampu menunjukan kebenaran, tapi akal itu sendiri tak mampu mencapainya.
6. Mengakui
otoritas
Para filsuf India selalu memperhitungkan
tradisi seperti yang diajarkan para guru Upanishad, Budha, atau Mahavira. Ini
berpengaruh pada metode filsafat india yang
dimulai dengan stravana (mendengarkan).
7. Tendensi untuk mendekati berbagai aspek pengalaman dan
realitas dengan pendekatan sintesis
ciri ini sama dengan
Rg Veda yang beranggapan bahwa agama yang benar akan mencangkup semua agama. Tuhan itu, menurut mereka satu hanya
disebut oleh manusia dengan banyak nama. Agama dan filsafat, pengetahuan dan
tindakan, intuisi dan pemikiran. Tuhan dan manusia, diletakkan dalam harmoni.
Ciri sintesis ini menyebabkan semua sisitem dapat hidup dalam hharmoni dan
toleransi. Itulah sebabnya pula, filsafat tidak dapat di pisahkan dari agam.
3.METODE FILSAFAT INDIA
Proses berfilsafat india umumnya
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Sravana (mendengarkan) ajaran-ajaran benar dari
teks-teks kitab Suci agar dapat menangkap pengertiannya secara penuh.
2. Manana (pembincangan-penalaran) diskusi tentang
isi teks yang didenga
3. Nididhyasana
duduk
dengan sikap meditasi dengan konsntrasi pikiran pada ajaran yang didengarkan
itu. Dengan sikap meditasi, pikiran di bebaskan dari keraguan. Pikiran menjadi
terbuka untuk diresapi dan di terangi oleh kebenaran ajaran itu.
Ketiga langkah ini menybabkan bahwa di
India Filsafat bukan suatu yang hanya teoritas, tapi menjadi suatu kekuatan
yang menghidupkan dan mengubah manusia.
4.ALIRAN FILSAFAT INDIA
Ada banyak aliran filsafat yang muncul di
india. Dibawah ini diuraikan hanya beberapa aliran terpenting antara lain:
1. Carvaka
Carvaka didirikan oleh Brhaspati. Cirinya
materialistis hedonistis. Aliran ini tidak menerima kehidupan sesudah kematian (kehidupan
sesudah kehidupan di dunia ini).
Alasannya: kehidupan di dunia akhirat
tidak dapat diverifikasikan , apalagi belum ada seseorangpun yang
menyaksikannyya. Jadi, aliran ini hanya mengakui eksistensis duniawi, dan
menolak kebukaan jiwa. Etika aliran ini bersifat hedonistis. Menurut aliran
ini, manusia boleh melakukan apa saja, karena tidak ada hokum yang memikat.
Jadi, mereka menolak konsep hukum karma dan kelahiran kembali yang terdapat
pada system filsafat india yang lain.
Dalam Kamasutra
disebutkan dengan bahasa yang lebih halus.”Sejauh hokum moral mengenai sesuatu,
sejauh itu pula harus kita taai, jika bukan demi kebahagiaan hidup mendatang.
Sekurang-kurangnya untuk membuat hiidup masa kini mudah dan terhormat”.
Carvaka mengajar
bahwa satu-satunya realitas adalah materi, yang terdiri dari empat unsur yakni
tanah, air, udara, api. Aliran ini hanya menerima pengtahuan berdasarkan persepsi
langsung. Mereka menolak induksi dan deduksi, mereka menolak deduksi karna,
menurut mereka, kebenaran sudah terkandung dalam premisnya. Mereka juga menolak
kesaksian verbal karna pontensial terhadap misinterpretasi, penyimmpangan dan
kebohongan.
2. Jainisme
Filsafat Jainisme menolak seluruh
otoritas Veda. Setiap pendapat adalah sah. Bukan berarti mereka tidak mengakui
adanya kontradiksi-kontradiksi, tatapi mereka melihat adanya kompleksitas
realitas
Perbedaan pendapat terjadi karna
perbedaan titik tolak yang di gunakan orang atau kebatasan penemuan pada suatu
aspek realitas saja. Oleh sebab itu jainisme berpendapat bahwa tidak mungkin
ada pengetahuan absolute. Pengetahuan dinyatakan sah hanya dalam hubungannya
dengan titik tolak yang yang digunakan. Oleh sebab itu pendekatan yang benar
adalah menerima ke absahan sebagai suatu yang relative.
Jasmine mengenal tujuh titik tolak dalam
memandang realitas, yakni:
1. Ada.
2. Tidak
ada.
3. Tidak
dapat di lukiskan.
4. Ada dan
tak dapat di lukiskan.
5. Tiada dan
tidak dapat dilukiskan.
6. Ada dan
tiada.
7. Ada,tiada,dan
tak dapat dilukiskan.
Ada lima macam
pengetahuan yakni:
1. Mati (pengetahuan sehari-hari), meliputi
pemahaman,dan induksi.
2. Sruti:pengetahuan yang diturunkan dari tanda-tanda,
symbol kata.
3. Avadhi: pengetahuan langsung atas benda-benda.
4. Manahparyaya: pengetahuan langsung akan
apa yang di pikirkan orang.
5. Kevala: pengetahuan sempurna.
Menurut Jainisme,
hakikat dari diri atau jiwa adalah kesadaran. Tujuan tertinggi adalah realisasi
kondisi murni, mengembalikan jiwa kepada hakikatnya, yakni: pengetahuan
Tak terbatas (ananta jnana), persepsi tidak terbatas (ananta
darsana), kekuasaan tidak terbatas (ananta virya). Ada banyak jiwa yang dan banyak
bentuknya. Kalau jiwa bebas, ia mencapai status murninya. Tapi ini bias dicapai
dengan disiplin rohani yang keras, memutuskan hubungan dengan dunia, yang
merupakan partike-partikel yang mengelilingi jiwa. Jiwa memiliki
keutamaan-keutamaan, yaitu ahimsa (tanpa kekerasan), menghargai hidup, harta dan benda, bicara yang benar, tidak mencuri,
kemurnian, dan ketidak lekatanpada hal-hal duniawi.
Subtansi adalah
penggabungan atom-atom yang tak berukuran, dalam formasi yang berbeda-beda.
Atom-atom itu masing-masing sudah memilikiprinsip pengideran (sentuhn, ppengcap
dan penciuman) dan warna. Dia atom dpat bergabung kalau ada perbedaan dalam
kelembaban. Ajaran kontak antara atom ini merupakan ajaran yang esensial (dalam
Budhisme tidak dikenal)
3.Budhisme
Budhisme didirikan
oleh Sidarta Gautama,. Ia berasal dari keluarga Shakya lahir sekitar tahun588
dan meninggal tahun 478. Kitab suci atau kanon Budhisme adalah Tripitaka yang
terdiri atas sutra (kumpulan khutbah Budha). Vinaya (undang-undang untuk para
muni dan upasaka), dan Abhidharma (metafisik dan psikologi).
Salah satu ciri khas
Budha adalah pesimisme. Inti ajarannya adalah bahwa segalanya duka (sarvam
dukham). Penderitaan karna samsara adalah suatu yang riil dan oleh sebab itu
manusia harus berusaha melepaskan diri dari kesengsaraan. Tapi bukan berarti
bahwa Budhanisme mengajarkan keputusan. Budha mengajarkan empat kebenaran
utama(empat aryasatyani) yakni:
1.
Hidup adalah sengsara (duka).
2.
Penderitaan itu timbul karna keinginan
(samudaya). Keinginan mencoba menggapai suatu hal dalam aliran air. Seolah-olah
itu merupakan suatu subtansi. Bila kita tidak berusaha memperoleh sesuatu, tapi
menyangkalnya maka kita tak akan merasa sedih atau kecewa dalam proses menjadi
yang abadi. Bukan dunia, tapi kita sendiri menjadi sebab dati penderitaan,
karna kepallsuan sikap kita terhadap dunia.
3.
Penderitaan dapat diakhiri dan dicapai
nirvana dimana segala aliran kehidupan berakhir. Nirvana bukan surge, bukan
pula keadaan kemana kita masuk. Nirvana dicapai dengan menghentikan semua
keinginan, sehingga masuk. Nirvana dicapai dengan menghentikan semua keinginan,
sehingga tak ada proses baru lagi.
Nirvana hanya dapat dilukiskan secara negative.
4.
Hal ini hanya dapat terlaksana dengan
perbuatan-perbuatan dan disiplin (marga), yang berpuncak pada konsentrasi dan
meditasi. Jalan mencapai pembebasan ini ditunjukkan Budha dalam bentuk Delapan
Jalan Pembebasan Manusia.
Ada tiga tingkat pendekatan, yakni:
1.
Penderitaan yang berkaitan dengan proses
kehidupan (terutama kelahira, sakit, usia tua, mati).
2.
Penderitaan sebagai akibat dari kesadaran
akan adanya kesenjangan dan distansi antara apa yang kita inginkan dan apa tang
diperoleh, serta kesadaran dan kesetaraan.
3.
Penderitaan sebagai akibat dari hakikat
kondisi kemanusiaan.
Semuanya ini
mendorong Budha untuk bertanya: apakah”diri” manusia yang menderita itu?
Jawabanya :”ego” tidak ada. Tidak ada “aku” yang menderita. Hanya ada
keseluruhan kompleks yang disebut manusia, yang berada dalam perubahan
terus-menerus. Budhisme berbicara tentang anatta(bukan aku)
Takada suatu yang
permanen yang dapat diselamatkan dalam proses pertumbuhan. Tidak ada jiwa dalam
tubuh. Hanya satu hal permanen yakni nirvana. Jadi, ada penderitaan, tapi tak
ada subjek yang menderita. Segala sesuatu mengalir, tapi ada satu unsur, yakni
orientasi rohani dalam diri manusia yang dapat membimbing aliran kehidupan itu
sehingga dapat dihentikan. Disinalah Budha menunjukan jalan untuk mengakhiri
penderitaan: mematahkan mata rantai sebab akibat.
Sesudah Budha wafat,
Budhisme sudah berakar kuat dibagian timur Gangga. Para murid Budha kemudian mengadakan
beberapa konsili. Konsili pertama berlangsung di Rajagrha, disusul konsili
kedua di Vesali seratus tahun sesudahnya. Budhanisme mencapai puncak
kemegahannya di masa pemerintahan Asoka. Konsili ketiga berlangsung di
Pataliputra dalam masa pemerintahan Asoka. Dalam konsili ini terjadi perpecahan
dan perbedaan pendapat, yang kemudian menghasilkan dua aliran Budhisme, yakni
Hinayana (artinya kendaraan kecil)dan Mahayana (artinya kendaraan besar).
Hiyana bertujuan
mencapai penyelamatan individual, sedangkan Mahayana mencari penyelamatan orang
lain. Pada aliran Mahayana, Buddha di hormati dan diperilahikan. Cita-cita
hidup aliran Mahayana adalah menjadi Boddhisattva, yakni orang yang telah
mencapai kesempurnaan, tapi menunda masuk nirvana dari keselamatan semua orang.
Sesudah mengangkat
raja Asoka, Budhisme tetap berkembang dibawah Kanishka. Sampai munculnya
Dinasti Gupta sekitar tahun 320M. Buddhisme tetap kokoh diindia, tapi
sesudahnya mengalami kemunduran. Sebab-sebabnya, antara lain: bertambah kuatnya
Hinduisme. Bahkan tradisi hindu disatukan dengan Buddhisme, dimana Budha
dianggap sebagai inkarnasi dari Dewa Wisnu. Juga, karena aktivitas misionaris
Buddhisme diarahkan keluar India, misalnya ke Tibet, Mongolia, Tiongkook, Jawa,
dan Jepang.
4.
Nyaya dan Vaisesika
Kedua aliran ini
memandang realitas dengan pandangan yang pluralistis. Mereka sangat mirip, dan
sebab itu biasanya dibicarakan secara bersama.
Nyaya dan Vaisesika
mengajarkan tentang tujuh katagori, yakni:
1. Substansi:
ada Sembilan substansi yaitu: tanah, air, api, udara,eter, waktu, ruang, jiwa,
dan kesadaran.
2. Kualitas.
3. Aktivitas.
4. Universal.
5. Particular.
6. Inheren.
7. Negasi.
Tanah, air, udara,
dan api bukan saja bersifat keras, lunak, lembut, dan sebagainya, tetapi
merupakan sebab khusus dari kelengkapan bau, tasa, warna, sentuhan, dan suara.
Jiwa (atman) tidak terbatas, tapi tidak sadar. Keadaan itu tidak berubah
setelah orang mencapai keselamatan. Mereka menerima Tuhan sebagai salah satu
Atman jumlah atman sangat banyak, dan bersifat abadi. Tuhan mampu mengontrol
proses penciptaan dan penghancuran.
Phiralisme hanya
merupakan ekspresi dari Sakti Tuhan (energy Tuhan). Mereka menolak saksi
sebagai katagori yang dipakai untuk memecahkan masalah monism dan pluralism.
Nyaya dan Vaisesika mengajarkan bahwa keselamatan berarti kembali kkekeadaan
tidak sadar dari Atman, lepas dari kontak dengan dunia dan kembali kepada
eksistensi buta,tidak sadar, kekosongan dari sengsara, dan bahkan kosong dari
kebahagiaan dan kesenangan.
5.
Sankhya dan Yoga
Perbedaan dari
Sankhya dan Yoga adalah Sankhya menolak Tuhan (sekurang-kurangnya mengagap
konsep Tuhan itu tidak relevan), sebaliknya Yoga menerimanya. Selebihnya, kedua
aliran itu mempunyai kesamaan pandangan filosofis. Katagori dari fundamental adalah kenyataan
adalah jiwa (purusa) dan materi (prakriti). Materi memiliki tiga kualitas (guna),
yakni sattvas(fungsi kebaikan dan pikiran sifatnya halus, ringan, dan
cermelang), rajas (fungsi aktifitas, sifatnya agresif), dan tamas (prinsip
diam, pasivitas dan berperan utama dalam pembentukan materi).
Penciptaan terjadi
bila terjadi kontak antar Purusa dan Prakriti. Dalam kontak itu prakriti
mengalami menyempurnaan. Dalam proses penciptaan, guna berlomba-lomba untuk
saling mendominasi. Bila sattavas menang, maka prakriti berubah menjadi Mahat
dan Budhi(yang besar). Transformasi prakriti ini (purinama) dilihat sebagai
aktualisasi potensi, yakni dalam sebab. Ini disebut teori satkaryavada (existent
effect) yang ditolak aliran Nyaya dan Vaisesika (dengan teori asatkaryavada:
akibat belum sungguh-sungguh ada sebelum sungguh-sungguh bereksistensi).
Transformasi memunculkan Mahat , lalu ke akuan (ego,ahamkara), akal
budi(manas), kelima organ panca indra. Tubuh manusia adalah obyek kasar dari obyek kasar. Bila Purusa dan Prakriti
pisah, maka Prakriti memperoleh keseimbangan kembali dan Pursa terbebaskan.
Maka pembebasan berarti pencapai suatu tingkat yang mengatasi alam (a level
beyond nature), dan bukan Transformasi hakikat alamiah pada yang sublim.
Dalam penciptaan
dunia (yang tidak lain merupakan evolusi Prakriti), tidak dibutuhkan pencipta
di luar Purusa dan Prakriti. Konsep Tuhan tidak dikenal . yoga (dengan system
filsafat Yogasutra dan Patanjali) membuat perubahan penting terhadap konsep
Sankhya. Yoga menerima adanya unsur Purusa dan Prakriti seperti yang di ajarkan
Sankhya. Tapi Yoga mengagap perlu memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan dalam
pencarian kesempurnaan.
Menurut Yoga, Tuhan
(isvara) adalah tipe khusus dari jiwa,
tidak tersentuh oleh penderitaan, karma atau oleh hasil perbuatan dan
kesan-kesan. Di dalam Tuhan terdapat pengetahuan tertinggi akan segala sesuatu.
Tuhann adalah Guru dan tidak terbatas pada waktu. Tuhan dianggap sebagai Roh
Maha Mulia dan yang Maha Sempurna, dan sebab itu menjadi obyek penyembahan.
6.
Purva Mimamsa
Purva Mimamsa
didirikan oleh Jaimini. Pada mulanya Mimamsa bukan merupakan system filsafat,
melainkan usaha untuk menjelaskan hakikat hukum, peraturan atau kewajiban
(dharma), yang menurut system ini terdiri dari ketaatan terhadap perintah Veda
dan larangan-larangannya. Veda mengajarkan orang untuk berkurban untuk
kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Lalu Mimamsa bertanya: bagaimana mungkin
kurban bias mendatangkan kebahagiaan? Ini akhirnya membawa kepada hakikat diri.
Tuhan dan perbuatan (karma).
Penganut Mimamsa di
sebut Mimamsaka. Kelompok Mimamsaka terkenal adalah Kumarila dan Prabhakara,
yang mengembangkan metafisika dan epistemologi sendiri. Prabhakara menerima
delapan katagori yakni:
1. Substansi.
2. Kualitas.
3. Perbuatan
atau aksi.
4. Universal.
5. Inheren.
6. Energy
(sakti).
7. Persamaan.
8. Jumlah.
Hakikat diri adalah
kesadaran, bukan kebahagiaan. Upacara kurban dianggap sebagai sarana untuk
mencapai keselamatan,. Karma (perbuatan, termaksud penyeggaraan kurban)
merupakan daya yang tak kelihatan, apurva umumyang membawa orang kepada
keselamatan.
Konsep tentang Tuhan
justru berasal dari konsep tentang karma sebagai penjamin keselamatan. Tuhan
dilihat sebagai penjaga prinsip karma. Tuhan adalah prinsip karma hukum atau
peraturan, yang isinya termuat dalam Veda. Tekanan pada Veda ini terpusat pada
bagian pertama Veda, yakni mantra-mantra dan Brahmana. Inilah yang
membedakannya dari Uttara Mimamsa. Purva Mimamsa mendasarkan diri pada Veda,
sebaliknya uttara Mimamsa mendasarkan diri pada Upanishad.
7.
Uttara Mimamsa (Vedanta)
Ada banyak system
Vedanta, dan bersifat realis, ideali, monistis, atau pluralis. Tiga system yang
terkenal adalah Sankara, Ramanuja, dan
Madhva. Semuanya menerima Brahmana sebagai realitas tertinggi. Brahmana harus direalisasi sebagai jiwanya sendiri, yaitu
Yang Absolut dalam diri kita. Usaha ini dilakukan dengan orientasi kedalam.
1. Sankara:
Adalah system nondualitis. Menurut
Sankara, Atman sama dengan Brahmana, yakni esensi subyektifitas yang bersatu
dengan esensi dunia. Dunia seluruhnya bergantung pada Brahmana tapi, Brahman
tidak tergantung pada dunia.
Brahmana adalah dasar seluruh pengalaman.
Ia tidak sama dengan dunia, tidak berbeda dengan dunia, tidak empiris, tidak
obyektif, bukan tidak ada, sangat berbeda dengan lainnya. Moksa atau pembahasan
diri dicapai dengan praktik devosi dan mewujudkan nilai-nilai etis. Ini selama
orang hidup di dunia.
2. Ramanuja:
Menekan perbedaan dalam nondualisme
sankara. Dunia diri, Tuhan (Brahman) itu riil, tapi dunia dan diri bergantung
pada Brahmana. Diri memiliki ekstensi abadi. Dunia atau materi, diri dan Tuhan
membentuk satu kesatuan,tapi diri dan dunia hanya sebagai tubuh Brahmana. Di
luar Brahmana tidak ada apa-apa. Itulah sebabnya teori Ramanuja disebut
nondualisme dengan perbedaan, yaitu satu Brahman memiliki dua bentuk: Diri dan
Materi.
Keselamatan bukan penghayutan diri dalam
Brahman, melainkan pembebasan diri dari hambatan-hambatan. Setinggi apapun
manusia merealisasikan diri, tuhan masih lebih tinggi. Manusia harus selalu
menghormati Tuhan. Itulah sebabnya, Ramanuja menekankan aspek kebaktian kepada
Tuhan.
3. Madhava:
Bersifat dualistis. Dunia, diri, dan Brahmana
merupakan eksistensi abadi, tapi dunia dan diri itu tergantung pada Brahman.
Brahman memiliki segala kesempurnaan dan digambarkan sebagai Visnu.
Aliran ini mengajarkan bahwa individu dan
alam adalah realitas independen. Timbulnya persoalan: bagaimana Brahmana
mengontrolnya? Jawaban: dengan konsep Sakti (energy Brahman). Diri-diri
individu dan alam, meskipun independen, merupakan ekspresi atau manifestasi dan
Sakti Brahman.
4. Pasupata,
Sakta, dan Pancararatra:
Ketiganya merupakan sekte yang berlawanan
dengan Veda, dalam system Pancaratra. Visnu sama dengan Brahman, tapi
atribut-atributnya tak dapat menampakkan diri tanpa Sakti yang dinamakan
Laksmi. Sakti ini memiliki dua aspek, yaitu aktifitas dan menjadi (activity and
becoming).
Bila Sakti itu aktif, keenam atribut
Visnu memanifestasikan diri dalam pengetahuan. Ke-Tuhanan, kemampuan, kekuatan,
keperkasaan dan kemuliaan. Dalam system
Pasupata(Saiva). Saiva sama dengan Brahmana dalam Upanishad. Hakikatnya adalah
“Aku Murni”, tanpa atribut, tanpa keterangan, kesadaran murni.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sejarah filsafat India adalah evolusi pemikiran manusia yang
mengarah pada spiritualitas. Saya memilih menulis filsafat India karena budaya
Jawa dan mungkin budaya lokal lainnya juga memiliki akar yang sama dengan
filsafat India. Jika kita cermati, setiap sistem filsafat berkembang dengan
caranya sendiri dan merupakan reaksi dari keadaan yang diramaikan dengan
perbedaan interpretasi akan nilai hidup. Bentuk primitif agama, pada mulanya
adalah pemujaan keluar, yang lebih sebagai sandaran psikologis dalam diri
manusia, lalu menjadi mengarah kedalam, mengarah pada pemahaman diri, yang
membawa transformasi diri yang lebih baik. Memanglah tepat istilah Jawa
“ageman”. Agama memang hanya pakaian (baca: ageman), hanya bentuk luar, yang
didalamnya mesti ada refleksi diri dan pencarian ke dalam. Walaupun demikian,
pencarian spiritual tidak bisa dipaksa, diatur secar mekanis, atau juga
dijadikan standar moral tertentu. Seperti yang dikatakan Mudji Sutrisno, “...filsafat
Timur lebih berupa suatu penawaran yang praktis mengenai kebahagiaan manusia.
Orang tetap bebas menghadapi penawaran ini.”
Yang Real hanyalah Brahman, Tuhan
Yang Maha Esa. Tidak ada realitas di luar Brahman. Brahman adalah satu-satunya
realitas. Manusia dan dunia ini adalah percikan dari Brahman, artinya bahwa
manusia dan dunia sama dengan Tuhan sekaligus berbeda.
Hakekat manusia adalah Roh atau
Atman yang merupakan percikan dari Brahman. (Tat Twam Asi).Setiap manusia
adalah bersaudara, oleh karena sama-sama merupakan Atman, percikan dari
Brahman. Manusia di dunia ini adalah manusia yang jatuh yang awidya, yang tidak
berpengetahuan, yang lupa akan dirinya yang sejati. Tujuan hidup manusia adalah
pembebasan atau moksa, yaitu kembali kepada dirinya yang sejati, yaitu menyatu
kepada Tuhan.
Untuk kembali kepada dirinya yang
sejati ditawarkan empat jalan yang dibenarkan untuk dipilih oleh seseorang
sesuai dengan bakat dan kemampuannya yang dikenal dengan Catur Marga, yaitu :
Jnana Marga, mencapai pembesan dengan jalan ilmu pengetahuan, Karma Marga,
mencapai pembebasan lewat jalan berkarya, berbuat. Bahwa segala perbuatan dan
karyanya ditujukan untuk mencapai pembebasan itu sendiri; Bhakti Marga yaitu
pembebasan yang dicapai lewat jalan Bhakti, yaitu mengabdikan seluruh hidupnya
untuk memuliakan Tuhan itu sendiri; Yoga Marga, yaitu mencapi pembebasan lewat
jalan meditasi, yaitu mengkonsentrasikan pikirannya pada Tuhan lewat delapan
tahapan Yoga (astangga yoga).
Dengan demikian secara intrinsic dapat dikatakan bahwa
manusia dalam hidupnya di dunia ini, adalah “tugas”. Tugas yang harus
diselesaikannya, yang harus dijalankannya. Berarti pula bahwa hakekat hidup
manusia adalah berbuat, berkarma, sesuai dengan kemampuannya. Berkarma berarti
pula harus lebih banyak member daripada meminta. Memberi mengandung pengertian
bahwa semakin banyak member semakin baik, oleh karena sekaligus menunjukkan
bahwa seseorang itu kuat. Setiap orang harus menjadi manusia yang kuat bukan
menjadi manusia yang lemah, yang harus dibantu oleh manusia yang lainnya. Semua
manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menuju pembebasan.
Cepat dan lambatnya seseorang mencapai pembebasan
sangat tergantung dari “karma” nya. Ada hukum yang mengatur karma ini yaitu
Hukum Sebab Akibat atau Hukum Karma. Anda akan menuai, apa yang anda tanam.
Menanam jagung akan menuai jagung. Anda akan menuai apa yang anda tanam.
Menanam kejahatan akan menuai kesengsaraan, menanam kebaikan akan menuai
kebahagiaan. Ada tiga jenis hukum karma sesuai dengan pahala atau buah yang
akan diterimanya bila dikaitkan dengan waktu. Perbuatan anda sekarang akan anda
petik hasilnya sekarang juga; perbuatan anda sekarang anda akan petik nanti
dalam kehidupan yang akan dating; apa yang anda petik sekarang adalah buah
karma atau perbuatan dari kehidupan anda yang lalu. Hukum Karma adalah hukum
yang paling adil yang pernah dikenal oleh manusia.
Konsep filsafat India tentang waktu, merupakan waktu
yang kita kenal seperti saat ini, yang be rsifat linier yang berjalan dari masa
lalu, masa sekarang dan masa yang akan dating, namun dikenala pula waktu yang
bersifat siklus, yang merupakan pengulangan. Hal ini dimungkinkan oleh karena
Atman (roh) itu adalah kekal dan belum akan kembali menyatu dengan Tuhan
(Brahman) kalau masih terikat oleh badan, sehingga muncul konsep kelahiran
berulang-ulang (reinkarnasi, menitis, tumimbal lahir).
Manusia itu tidak dimaksudkan untuk menjadi manusia
serakah, yang ingin mendapatkan kesejahteraan materiil secara berlebihan.
Manusia harus memenuhi kebutuhannya seperlunya, secukupnya secara wajar dan
tidak berlebihan. Veda mengajarkan bahwa apa yang tersedia di dunia ini bukan
semata-mata hak kita yang sedang hidup ini, namun juga merupakan hak dari
mereka yang akan terlahir di dunia ini. Dan itu semua merupakan sarana saja
untuk menuju tujuan akhir hidup manusia yaitu moksa.
Berbicara masalah Tuhan, konsep
Tuhan menurut Veda yaitu transenden sekaligus imanen, personal sekaligus
impersonal. Menurut pemikiran Veda Tuhan dengan konsep yang manapun didekati
oleh penyembahnya adalah sah-sah saja. Tidak ada satupu yang dapat mengklaim dirinya sebagai
orang yang paling tinggi tingkat spiritualitasnya dan paling benar. Ada satu
ungkapan setiap manusia adalah Vasudeva Kutumbakam. Setiap adalah
percikan dari Vasudeva, Tuhan Yang Maha Esa, sehingga setiap manusia adalah
bersaudara dan setara. Dengan demikian pemikiran ini memungkinkan menerima
Tuhan sebagain Jesus, sebagai Buddha, sebagai Allah, Hyang Widhi, Brahman.