Minggu, 25 Desember 2016

makalah filsafat india


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang

India khususnya Lembah Indus, merupakan tempat lahirnya peradaban dunia yang tertua,. Zaman perunggu muncul disana sekitar tahun 2500 SM. Penggalian Arkeologi menunjukan peninggalan-peninggalan yang menyingkapa peran Lembah Indus sebagai pusat kebudayaan besar. Dari peninggalan-peninggalan diketahui bahwa tidak terdapat gejolak, perkembangan terlalu hebat,Lembah Indus merupakan kawasan yang subur.  

Antara tahun 1700 hingga 1400SM terjadi gelombang migrasi bangsa Arya yang memasuki India lewat pegunungan Hindu Kush di utara. Mereka kemudian menduduki lembah-lembah subur di daerah percabangan samapai Indus. Suku Arya dikenal sebagai suku bangsa yang gemar perperang, mereka menemukan kuda dan kereta untuk perang. Itulah sebab nya mereka dengan mudah mengalahkan musuh-musuhnya. Mereka kemudian mengalami transformasi, dari masyarakat nomad menjadi masyarakat petani yang menetap. Kehadiran mereka lama-lama mendesak penduduk asli, yakni suku Dravida, kearah selatan. Konflik Bansa Arya dan Dravida terekam dalam epos Mahabrata dan Ramayana.
Dalam perkembangan selanjutnya, terciptalah system kelas. Para kepala suku bertanggung jawab meneruskan perjuangan melawan suku asli. Kemudian muncul kelas imam, ketika Brahmanisme, dengan ritualismenya, menjjadi semakin penting. Bersam itu pulu muncul berbagai tradisi lisan, yang kemudian dikumpulkan yang kita kenal sebagai Veda. (Sandiwan S.Brata 19-21)
Filsafat Yunani seperti halnya kegiatan berfilsafat itu sendiri, bertolak dengan kenyataan yang dialami sehari-hari. Tapi sebagai system pemikiran, kedua filsafat itu berbeda. Orang Yunani dan India sama-sama berfilsafatuntuk mencari kebenaran. Tapi, ada perbedaannya, orang Yunani mencari kebenaran sebagai kebenaran, sedangkan orang India mencari kebenaran untuk melapaskan diri dari dunia. Filsafat India tidak mengajarkan seseorang untuk menguasai alam, tetapi untuk berteman dengan alam . mendidik seseorang agar mempunyai kearifan local dalam menelaah masalah hidup. Banyaknya catatan sejarah yang hilang serta kurangnya tokoh India zaman dulu yang kurang menuliskan kisahnya menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi pengkaji filsafat India.

Cukup banyak kesalahpahaman terjadi dalam memandang filsafat India. Filsafat India sering dikaitkan dengan mistik tanpa adanya logika, berdasarkan instuisi supranatural, hanya filsafat pemujaan sakti, yaitu kekuatan dewi dalam bentuk energi. Berkembangnya filsafat India membuktikan eksistensi mereka yang benar-benar menggedepankan nilai-nilai spiritual, cinta kasih dan persaudaraan.

B.   Rumusan Masalah

1.    Apa yang dimaksud dengan Peradaban India?
2.    Sebutkan ciri-ciri Filsafat India ?
3.    Sebutkan metode Filsafat India?
4.    Sebutkan beberapa aliran Filsafat India?

C.   Tujuan

1.    Untuk dapat memahami pengertian peradaban islam.
2.    Untuk dapat mengetahui cirri-ciri Filsafat India.  
3.    Untuk dapa memahami metode Filsafat India.
4.    Untuk dapat mengetahui aliran di dalam Filsafat India.





BAB II
PEMBAHASAN

1.PERADABAN INDIA
Perkembangan Filsafat India dibagi dalam lima kurun sebagai berikut:
1.    Kurun Veda (2000SM-600SM).
2.    Kurun Reaksi (600SM-300M).
3.    Kurun Purana (300-1200M).
4.    Kurun islam (1200-1757M).
5.    Kurun Modern (1757-1968)

1.    Kurun Veda (2000-600 M)
Veda adalah tradisi sastra yang merupakan hasil perjumpaan antara bangsa Arya yang berbahasa indo-Eropa dan kebudayaan Dravida. Veda dinyanyikan, di ucapkan, dan ditulis dalam bahasa. Vedik, yakni bahasa kuno Indo-Arya dari bahasa sangsekerta. Veda terdiri dari empat kumpulan yakni.
1.     Rg Veda: kumpulan puji-pujian yang diresitasi.
2.    Sama Veda: kumpulan himne yang dilahirkan.
3.    Yaajur Veda: kumpulan rumusan-rumusan untuk kurban.
4.    Atharva Veda: kumpulan rumusan-rumusan magis.
Dimasa ini, diwariskan pula tiga kitab lain yang penting kedudukannya dala Hinduisme, yakni:
1.    Bhrahmana: kitab yang berisi spekulasi tentang kurban dan kedudukan imam-imam.
2.    Aryanyaka: naskahh-naskah esoteric yang merupakan hasil refleksi kaum vanaprastha (penghuni hutan). Kitab ini menekankan arti batiniah dan simbolis dari kurban.
3.    Upanishad:  ini merupakan kelanjutan dari Aryaaka. Jadi, merupakan menutup dari Veda. Terakhir secara kronologis maupun teleoligis. Segala revelasi Hindu mencapai kesempurnaannya pada Upanishad. Itulah sebabnya Upanishad sering disebut juga Vedanta (akhir atau pemenuhan Veda, baik secara temporal maupun teleoligis).
Metode dalam Upanishad adalah introspektif, dengan titik tolak pengalaman berfikir manusia dan fakta kesadaran manusia. Tema pokok Upanishad adalah hakekat berfikir keakuan dan hubungannya dengan kesadaran. Tuhan, dalam Upanishad dilukiskan sebagai penguasa batin yang tak dapat mati atau sebagai benang yang melewati segala benda dan mengikat mereka bersama. Dialah kebenaran sentral dan eksistensi bernyawa dan tidak bernyawa, dan karenanya dia tidak hanya transenden tapi juga imanen. Dialah pencipta dunia, tetapi ia memunculkan dunia itu dari dirinya sendiri sebagai lebah-lebah membuat jaringan sarangnya . (sastrapratedja:5-6)
Upanishad bukan semata-mata hasil dari para Brahmana, tetapi sudah di pengaruhi oleh unsure luar Brahmana. Ajaran dari Upanishad tidak boleh disampaikan kepada sembarang orang, kecuali orang Aryadan merka yang telah maju di bidang agama.

2.    Kurun Reaksi (600SM-300M) 
Pada abad 7 dan abad 5 SM, kehidupan intelektual dan spiritual dunia berkembang. Di Yunani, muncul filsafa-filsafat alam. Di Palenstina muncul para nabi. Di Cina tampil Confusius, dan di Persia, muncul tokoh Zarathustra. Di India, muncul pemikiran-pemikiran Upanishad dan pengajar yang kurang ortodoks. Muncullah Jainisme dan Budhisme yang memberikan ajaran dan aturan baru untuk mencapai keselamatan.
Pada kurun waktu itu struktur masyarakat lama mengalami keguncangan. Muncul sejumlah kerajaan kecil. Ada semacam rasa pesimisme di bidang kebudayaan dan keagamaan. Msih ada perbedaan pandangan dikalangan ahli tentang latar belakang ketidak puasan dan disentregrasi dalam masyarakat. Tapi salah satu alasannya, adalah meluasnya ajaran tentang inkarnasi sehingga orang ingin melepaskan diri dari lingkaran kelahiran kembali. Pada kurun waktu itu struktur masyarakat lama mengalami keguncangan. Muncul sejumlahkerajaan kecil. Ada semacam rasa pesimisme di bidang keagamaan dan kebudayaan. Masih ada perbedaan pandangan dikalangan ahli tentang latar belakang ketidak puasan dan disentegrasi dalam masyarakat. Tapi salah satu alsannya, meluasnya ajaran tentang inkarnasi sehiingga orang ingin melepaskan diri dari lingkaran kelahiran kembali.
Pendiri Budhisme adalah Sidharta Guatama (558-478). Dia berasal dari keluarga Shakya. Kitab suci atau kanon Budhisme dinamakan tripitaka, yang terdiri atas sutra (kumpulan khotbah Budah),vinaya (undang-undang untuk para muni dan upasaka), dan abhidharma (metafisik dan psikologi).
3.    Kurun Purana Darsana (300-1200M)
Pada masa ini muncul pemikiran filosofis. Filsafat India menjadi sadar diri. Logika dan epistemology muncul sebagai bagian dari filsafat. Ciri pertumbuhan baru ini antara lain disebabkan oleh Jainisme dan Budhisme. Hampir semua system filsafat mencurahkan perhatian pada apa yang dinamakan pramana. Pramana berarti cara-cara esensial untuk pencapai pengetahuan yang sah (prama). Objek yang diketahui disebut prameya, sedangkan orang yang mengetahui dinamakan pramata.
Hasil yang dicapai Pramana adalah darsana, yang secara harafiah berarti penglihatan atau pint of view. Jadi,cita-cita filsafat india adalah visi langsung darri kebenaran terakhir. Filsafat diharapkan menjadi pengalaman langsung, kata Darsana berarti pendapat filosofis.

4.    Kurun Islam (1200-1757M)
Perkembangan filsafat India pada zaman ini ada dua pemikiran yang berkembang, yaitu pemikiran yang mencoba menggembangkan suatu ajaran (agama) universal. Pemikiran yang lain pemikiran yang terjadi perpaduan antara ajaran Islam dan Hinduisme. Di kemudian hari ajaran pemikiran ini berkembang menjadi aliran Sikh
Tokoh yang cukup menonjol dalam periode ini adalah Kabir dan guru Nanak, Kabir mencoba untuk mengembangkan suatu agama universal. Sedangkan guru Nanak adalah aliran Sikh, yang berusaha yang berusaha menyerasikan Islam dan Hidunisme.

5.    Kurun Modern (1757-1968)
Dalam periode ini terlihat kecendrungan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai klasik india, bersamaan dengan berbagai pembaruan social-politik. Tokoh –tokoh penting dalam periode ini antara lain:

1.    Raja Ram Mohan Roy (1772-1833).
2.    Vivekanda (1863-1902).
3.    Gandhi (1869-1948).
4.    Rabindranath Tagore (1861-1941).
5.    Raadhakrishnan (1888-1975).
Roy mengajarkan menoteisme berdasarkan Upanishad dan moral berdasarkan khotbah di Bukit dari Injil. Vivekanda mengajarkan bahwa semua agama benar,tapi agma yang cocok untuk India adalah Hindu.

2. CIRI-CIRI FILSAFAT INDIA
Profesor Radhakrishnan memberikan tujuh ciri untuk seluruh system fislafat india, yakni:
1.    Motif Spritual
Mendasari seluruh system fisasat india maupun kehidupan masyarakat. Kecuali aliran Carvaka,semua aliran lain mengakui esensi spiritual. Itulah sebabnya, penghayatan agama sangat erat kaitan nya denganusaha filosofis, filsafat india.

2.    Sikap Introspektif dan pendekatan introspektif terhadap realitas
Filsafat dipahami sebagai atmavidya, yakni pengetahuan akan diri. Oleh karna itu, yang menonjol adalah subjektivitas. Itulah pula sebabnya, psikolog dan etika dianggap lebih penting dari pada ilmu pengetahuan alam atau ilmu pengetahuan positif yang juga tetap digeluti.

3.    Mengakui hubungan erat antar hidup dan filsafat
Filsafat tidak dianggap sebagai sekedar sport otak, tapi merupakan usaha mencari kebenaran yang dapat membebaskan manusia. Ini suatu bentuk pragmatism, tapi bukan berarti bahwa kebenaran diukur menurut kepraktisanya,tapi kebenaran itu diakui sebagai satu-satunya petunjuk untuk praksis kehidupan.
Menurut paham fisafat india, kebenaran membawa keselamatan. Keselamatan berarti bebas dari penderitaan, kelahiran kembali, atau kebahagiaan abadi, itu terwujud manakala jiwa mencapai kemurnian semula, atau bila terjadi identifikasi dengan yang absolute, persatuan dengan Tuhan, atau bila jiwa mencapai eksistensi abadinya.

4.    Idealis
Filsafat India, khusus nya hindunisme, mengarah kepada monisme ideal. Apa yang kelihatan sebagai pluralism dan kontradiktoris sebetulnya merupakan bentuk-bentuk ekpresi, tapi semuanya itu menyembul dari keyakinan dasar yang satu yang mempersatukan semua system filsafat India secara keseluruhan.

5.    Memberikan peran sentral terhadap intuisi
Hanya intuisi mampu menyingkap kebenaran tertinggi. Tidak berarti bahwa peran akal ditolak. Pengetahuan intelektual dianggap tidak mencukupi, oleh sebab itu kata yang tepat untuk filsafat adalah darsana, berasal dari kata drs yang berarti melihat, mengalami secara intuitif. Akal mampu menunjukan kebenaran, tapi akal itu sendiri tak mampu mencapainya.

6.    Mengakui otoritas
Para filsuf India selalu memperhitungkan tradisi seperti yang diajarkan para guru Upanishad, Budha, atau Mahavira. Ini berpengaruh pada metode filsafat india yang  dimulai dengan stravana (mendengarkan).

7.    Tendensi untuk mendekati berbagai aspek pengalaman dan realitas dengan pendekatan sintesis
ciri ini sama dengan Rg Veda yang beranggapan bahwa agama yang benar akan mencangkup semua agama. Tuhan itu, menurut mereka satu hanya disebut oleh manusia dengan banyak nama. Agama dan filsafat, pengetahuan dan tindakan, intuisi dan pemikiran. Tuhan dan manusia, diletakkan dalam harmoni. Ciri sintesis ini menyebabkan semua sisitem dapat hidup dalam hharmoni dan toleransi. Itulah sebabnya pula, filsafat tidak dapat di pisahkan dari agam.





3.METODE FILSAFAT INDIA
Proses berfilsafat india umumnya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Sravana (mendengarkan) ajaran-ajaran benar dari teks-teks kitab Suci agar dapat menangkap pengertiannya secara penuh.
2.    Manana (pembincangan-penalaran) diskusi tentang isi teks yang didenga
3.    Nididhyasana duduk dengan sikap meditasi dengan konsntrasi pikiran pada ajaran yang didengarkan itu. Dengan sikap meditasi, pikiran di bebaskan dari keraguan. Pikiran menjadi terbuka untuk diresapi dan di terangi oleh kebenaran ajaran itu.

Ketiga langkah ini menybabkan bahwa di India Filsafat bukan suatu yang hanya teoritas, tapi menjadi suatu kekuatan yang menghidupkan dan mengubah manusia.

4.ALIRAN FILSAFAT INDIA
Ada banyak aliran filsafat yang muncul di india. Dibawah ini diuraikan hanya beberapa aliran terpenting antara lain:
1. Carvaka
Carvaka didirikan oleh Brhaspati. Cirinya materialistis hedonistis. Aliran ini tidak menerima kehidupan sesudah kematian (kehidupan sesudah kehidupan di dunia ini).
Alasannya: kehidupan di dunia akhirat tidak dapat diverifikasikan , apalagi belum ada seseorangpun yang menyaksikannyya. Jadi, aliran ini hanya mengakui eksistensis duniawi, dan menolak kebukaan jiwa. Etika aliran ini bersifat hedonistis. Menurut aliran ini, manusia boleh melakukan apa saja, karena tidak ada hokum yang memikat. Jadi, mereka menolak konsep hukum karma dan kelahiran kembali yang terdapat pada system filsafat india yang lain.

Dalam Kamasutra disebutkan dengan bahasa yang lebih halus.”Sejauh hokum moral mengenai sesuatu, sejauh itu pula harus kita taai, jika bukan demi kebahagiaan hidup mendatang. Sekurang-kurangnya untuk membuat hiidup masa kini mudah dan terhormat”.
Carvaka mengajar bahwa satu-satunya realitas adalah materi, yang terdiri dari empat unsur yakni tanah, air, udara, api. Aliran ini hanya menerima pengtahuan berdasarkan persepsi langsung. Mereka menolak induksi dan deduksi, mereka menolak deduksi karna, menurut mereka, kebenaran sudah terkandung dalam premisnya. Mereka juga menolak kesaksian verbal karna pontensial terhadap misinterpretasi, penyimmpangan dan kebohongan.
     2. Jainisme
Filsafat Jainisme menolak seluruh otoritas Veda. Setiap pendapat adalah sah. Bukan berarti mereka tidak mengakui adanya kontradiksi-kontradiksi, tatapi mereka melihat adanya kompleksitas realitas
Perbedaan pendapat terjadi karna perbedaan titik tolak yang di gunakan orang atau kebatasan penemuan pada suatu aspek realitas saja. Oleh sebab itu jainisme berpendapat bahwa tidak mungkin ada pengetahuan absolute. Pengetahuan dinyatakan sah hanya dalam hubungannya dengan titik tolak yang yang digunakan. Oleh sebab itu pendekatan yang benar adalah menerima ke absahan sebagai suatu yang relative.
Jasmine mengenal tujuh titik tolak dalam memandang realitas, yakni:
1.    Ada.
2.    Tidak ada.
3.    Tidak dapat di lukiskan.
4.    Ada dan tak dapat di lukiskan.
5.    Tiada dan tidak dapat dilukiskan.
6.    Ada dan tiada.
7.    Ada,tiada,dan tak dapat dilukiskan.
Ada lima macam pengetahuan yakni:
1.    Mati (pengetahuan sehari-hari), meliputi pemahaman,dan induksi.
2.    Sruti:pengetahuan yang diturunkan dari tanda-tanda, symbol kata.
3.    Avadhi: pengetahuan langsung atas benda-benda.
4.    Manahparyaya: pengetahuan langsung akan apa yang di pikirkan orang.
5.    Kevala: pengetahuan sempurna.
Menurut Jainisme, hakikat dari diri atau jiwa adalah kesadaran. Tujuan tertinggi adalah realisasi kondisi murni, mengembalikan jiwa kepada hakikatnya, yakni:  pengetahuan  Tak terbatas (ananta jnana), persepsi tidak terbatas (ananta darsana), kekuasaan tidak terbatas (ananta virya). Ada banyak jiwa yang dan banyak bentuknya. Kalau jiwa bebas, ia mencapai status murninya. Tapi ini bias dicapai dengan disiplin rohani yang keras, memutuskan hubungan dengan dunia, yang merupakan partike-partikel yang mengelilingi jiwa. Jiwa memiliki keutamaan-keutamaan, yaitu ahimsa (tanpa kekerasan), menghargai hidup, harta  dan benda, bicara yang benar, tidak mencuri, kemurnian, dan ketidak lekatanpada hal-hal duniawi.
Subtansi adalah penggabungan atom-atom yang tak berukuran, dalam formasi yang berbeda-beda. Atom-atom itu masing-masing sudah memilikiprinsip pengideran (sentuhn, ppengcap dan penciuman) dan warna. Dia atom dpat bergabung kalau ada perbedaan dalam kelembaban. Ajaran kontak antara atom ini merupakan ajaran yang esensial (dalam Budhisme tidak dikenal)
3.Budhisme
Budhisme didirikan oleh Sidarta Gautama,. Ia berasal dari keluarga Shakya lahir sekitar tahun588 dan meninggal tahun 478. Kitab suci atau kanon Budhisme adalah Tripitaka yang terdiri atas sutra (kumpulan khutbah Budha). Vinaya (undang-undang untuk para muni dan upasaka), dan Abhidharma (metafisik dan psikologi).
Salah satu ciri khas Budha adalah pesimisme. Inti ajarannya adalah bahwa segalanya duka (sarvam dukham). Penderitaan karna samsara adalah suatu yang riil dan oleh sebab itu manusia harus berusaha melepaskan diri dari kesengsaraan. Tapi bukan berarti bahwa Budhanisme mengajarkan keputusan. Budha mengajarkan empat kebenaran utama(empat aryasatyani) yakni:
1.    Hidup adalah sengsara (duka).
2.    Penderitaan itu timbul karna keinginan (samudaya). Keinginan mencoba menggapai suatu hal dalam aliran air. Seolah-olah itu merupakan suatu subtansi. Bila kita tidak berusaha memperoleh sesuatu, tapi menyangkalnya maka kita tak akan merasa sedih atau kecewa dalam proses menjadi yang abadi. Bukan dunia, tapi kita sendiri menjadi sebab dati penderitaan, karna kepallsuan sikap kita terhadap dunia.
3.    Penderitaan dapat diakhiri dan dicapai nirvana dimana segala aliran kehidupan berakhir. Nirvana bukan surge, bukan pula keadaan kemana kita masuk. Nirvana dicapai dengan menghentikan semua keinginan, sehingga masuk. Nirvana dicapai dengan menghentikan semua keinginan, sehingga  tak ada proses baru lagi. Nirvana hanya dapat dilukiskan secara negative.
4.    Hal ini hanya dapat terlaksana dengan perbuatan-perbuatan dan disiplin (marga), yang berpuncak pada konsentrasi dan meditasi. Jalan mencapai pembebasan ini ditunjukkan Budha dalam bentuk Delapan Jalan Pembebasan Manusia.
Ada tiga tingkat pendekatan, yakni:
1.    Penderitaan yang berkaitan dengan proses kehidupan (terutama kelahira, sakit, usia tua, mati).
2.    Penderitaan sebagai akibat dari kesadaran akan adanya kesenjangan dan distansi antara apa yang kita inginkan dan apa tang diperoleh, serta kesadaran dan kesetaraan.
3.    Penderitaan sebagai akibat dari hakikat kondisi kemanusiaan.
Semuanya ini mendorong Budha untuk bertanya: apakah”diri” manusia yang menderita itu? Jawabanya :”ego” tidak ada. Tidak ada “aku” yang menderita. Hanya ada keseluruhan kompleks yang disebut manusia, yang berada dalam perubahan terus-menerus. Budhisme berbicara tentang anatta(bukan aku)
Takada suatu yang permanen yang dapat diselamatkan dalam proses pertumbuhan. Tidak ada jiwa dalam tubuh. Hanya satu hal permanen yakni nirvana. Jadi, ada penderitaan, tapi tak ada subjek yang menderita. Segala sesuatu mengalir, tapi ada satu unsur, yakni orientasi rohani dalam diri manusia yang dapat membimbing aliran kehidupan itu sehingga dapat dihentikan. Disinalah Budha menunjukan jalan untuk mengakhiri penderitaan: mematahkan mata rantai sebab akibat.
Sesudah Budha wafat, Budhisme sudah berakar kuat dibagian timur Gangga. Para murid Budha kemudian mengadakan beberapa konsili. Konsili pertama berlangsung di Rajagrha, disusul konsili kedua di Vesali seratus tahun sesudahnya. Budhanisme mencapai puncak kemegahannya di masa pemerintahan Asoka. Konsili ketiga berlangsung di Pataliputra dalam masa pemerintahan Asoka. Dalam konsili ini terjadi perpecahan dan perbedaan pendapat, yang kemudian menghasilkan dua aliran Budhisme, yakni Hinayana (artinya kendaraan kecil)dan Mahayana (artinya kendaraan besar).
Hiyana bertujuan mencapai penyelamatan individual, sedangkan Mahayana mencari penyelamatan orang lain. Pada aliran Mahayana, Buddha di hormati dan diperilahikan. Cita-cita hidup aliran Mahayana adalah menjadi Boddhisattva, yakni orang yang telah mencapai kesempurnaan, tapi menunda masuk nirvana dari keselamatan semua orang.
Sesudah mengangkat raja Asoka, Budhisme tetap berkembang dibawah Kanishka. Sampai munculnya Dinasti Gupta sekitar tahun 320M. Buddhisme tetap kokoh diindia, tapi sesudahnya mengalami kemunduran. Sebab-sebabnya, antara lain: bertambah kuatnya Hinduisme. Bahkan tradisi hindu disatukan dengan Buddhisme, dimana Budha dianggap sebagai inkarnasi dari Dewa Wisnu. Juga, karena aktivitas misionaris Buddhisme diarahkan keluar India, misalnya ke Tibet, Mongolia, Tiongkook, Jawa, dan Jepang.
4.    Nyaya dan Vaisesika
Kedua aliran ini memandang realitas dengan pandangan yang pluralistis. Mereka sangat mirip, dan sebab itu biasanya dibicarakan secara bersama.
Nyaya dan Vaisesika mengajarkan tentang tujuh katagori, yakni:
1.    Substansi: ada Sembilan substansi yaitu: tanah, air, api, udara,eter, waktu, ruang, jiwa, dan kesadaran.
2.    Kualitas.
3.    Aktivitas.
4.    Universal.
5.    Particular.
6.    Inheren.
7.    Negasi.
Tanah, air, udara, dan api bukan saja bersifat keras, lunak, lembut, dan sebagainya, tetapi merupakan sebab khusus dari kelengkapan bau, tasa, warna, sentuhan, dan suara. Jiwa (atman) tidak terbatas, tapi tidak sadar. Keadaan itu tidak berubah setelah orang mencapai keselamatan. Mereka menerima Tuhan sebagai salah satu Atman jumlah atman sangat banyak, dan bersifat abadi. Tuhan mampu mengontrol proses penciptaan dan penghancuran.
Phiralisme hanya merupakan ekspresi dari Sakti Tuhan (energy Tuhan). Mereka menolak saksi sebagai katagori yang dipakai untuk memecahkan masalah monism dan pluralism. Nyaya dan Vaisesika mengajarkan bahwa keselamatan berarti kembali kkekeadaan tidak sadar dari Atman, lepas dari kontak dengan dunia dan kembali kepada eksistensi buta,tidak sadar, kekosongan dari sengsara, dan bahkan kosong dari kebahagiaan dan kesenangan.
5.    Sankhya dan Yoga
Perbedaan dari Sankhya dan Yoga adalah Sankhya menolak Tuhan (sekurang-kurangnya mengagap konsep Tuhan itu tidak relevan), sebaliknya Yoga menerimanya. Selebihnya, kedua aliran itu mempunyai kesamaan pandangan filosofis.  Katagori dari fundamental adalah kenyataan adalah jiwa (purusa) dan materi (prakriti). Materi memiliki tiga kualitas (guna), yakni sattvas(fungsi kebaikan dan pikiran sifatnya halus, ringan, dan cermelang), rajas (fungsi aktifitas, sifatnya agresif), dan tamas (prinsip diam, pasivitas dan berperan utama dalam pembentukan materi).
Penciptaan terjadi bila terjadi kontak antar Purusa dan Prakriti. Dalam kontak itu prakriti mengalami menyempurnaan. Dalam proses penciptaan, guna berlomba-lomba untuk saling mendominasi. Bila sattavas menang, maka prakriti berubah menjadi Mahat dan Budhi(yang besar). Transformasi prakriti ini (purinama) dilihat sebagai aktualisasi potensi, yakni dalam sebab. Ini disebut teori satkaryavada (existent effect) yang ditolak aliran Nyaya dan Vaisesika (dengan teori asatkaryavada: akibat belum sungguh-sungguh ada sebelum sungguh-sungguh bereksistensi). Transformasi memunculkan Mahat , lalu ke akuan (ego,ahamkara), akal budi(manas), kelima organ panca indra. Tubuh manusia adalah obyek kasar  dari obyek kasar. Bila Purusa dan Prakriti pisah, maka Prakriti memperoleh keseimbangan kembali dan Pursa terbebaskan. Maka pembebasan berarti pencapai suatu tingkat yang mengatasi alam (a level beyond nature), dan bukan Transformasi hakikat alamiah pada yang sublim.
Dalam penciptaan dunia (yang tidak lain merupakan evolusi Prakriti), tidak dibutuhkan pencipta di luar Purusa dan Prakriti. Konsep Tuhan tidak dikenal . yoga (dengan system filsafat Yogasutra dan Patanjali) membuat perubahan penting terhadap konsep Sankhya. Yoga menerima adanya unsur Purusa dan Prakriti seperti yang di ajarkan Sankhya. Tapi Yoga mengagap perlu memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan dalam pencarian kesempurnaan.
Menurut Yoga, Tuhan (isvara) adalah tipe khusus  dari jiwa, tidak tersentuh oleh penderitaan, karma atau oleh hasil perbuatan dan kesan-kesan. Di dalam Tuhan terdapat pengetahuan tertinggi akan segala sesuatu. Tuhann adalah Guru dan tidak terbatas pada waktu. Tuhan dianggap sebagai Roh Maha Mulia dan yang Maha Sempurna, dan sebab itu menjadi obyek penyembahan.
6.    Purva Mimamsa
Purva Mimamsa didirikan oleh Jaimini. Pada mulanya Mimamsa bukan merupakan system filsafat, melainkan usaha untuk menjelaskan hakikat hukum, peraturan atau kewajiban (dharma), yang menurut system ini terdiri dari ketaatan terhadap perintah Veda dan larangan-larangannya. Veda mengajarkan orang untuk berkurban untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Lalu Mimamsa bertanya: bagaimana mungkin kurban bias mendatangkan kebahagiaan? Ini akhirnya membawa kepada hakikat diri. Tuhan dan perbuatan (karma).
Penganut Mimamsa di sebut Mimamsaka. Kelompok Mimamsaka terkenal adalah Kumarila dan Prabhakara, yang mengembangkan metafisika dan epistemologi sendiri. Prabhakara menerima delapan katagori yakni:
1.    Substansi.
2.    Kualitas.
3.    Perbuatan atau aksi.
4.    Universal.
5.    Inheren.
6.    Energy (sakti).
7.    Persamaan.
8.    Jumlah.
Hakikat diri adalah kesadaran, bukan kebahagiaan. Upacara kurban dianggap sebagai sarana untuk mencapai keselamatan,. Karma (perbuatan, termaksud penyeggaraan kurban) merupakan daya yang tak kelihatan, apurva umumyang membawa orang kepada keselamatan.
Konsep tentang Tuhan justru berasal dari konsep tentang karma sebagai penjamin keselamatan. Tuhan dilihat sebagai penjaga prinsip karma. Tuhan adalah prinsip karma hukum atau peraturan, yang isinya termuat dalam Veda. Tekanan pada Veda ini terpusat pada bagian pertama Veda, yakni mantra-mantra dan Brahmana. Inilah yang membedakannya dari Uttara Mimamsa. Purva Mimamsa mendasarkan diri pada Veda, sebaliknya uttara Mimamsa mendasarkan diri pada Upanishad.
7.    Uttara Mimamsa (Vedanta)
Ada banyak system Vedanta, dan bersifat realis, ideali, monistis, atau pluralis. Tiga system yang terkenal adalah Sankara,  Ramanuja, dan Madhva. Semuanya menerima Brahmana sebagai realitas tertinggi. Brahmana  harus direalisasi sebagai jiwanya sendiri, yaitu Yang Absolut dalam diri kita. Usaha ini dilakukan dengan orientasi kedalam.
1.    Sankara:
Adalah system nondualitis. Menurut Sankara, Atman sama dengan Brahmana, yakni esensi subyektifitas yang bersatu dengan esensi dunia. Dunia seluruhnya bergantung pada Brahmana tapi, Brahman tidak tergantung pada dunia.
Brahmana adalah dasar seluruh pengalaman. Ia tidak sama dengan dunia, tidak berbeda dengan dunia, tidak empiris, tidak obyektif, bukan tidak ada, sangat berbeda dengan lainnya. Moksa atau pembahasan diri dicapai dengan praktik devosi dan mewujudkan nilai-nilai etis. Ini selama orang hidup di dunia.

2.    Ramanuja:
Menekan perbedaan dalam nondualisme sankara. Dunia diri, Tuhan (Brahman) itu riil, tapi dunia dan diri bergantung pada Brahmana. Diri memiliki ekstensi abadi. Dunia atau materi, diri dan Tuhan membentuk satu kesatuan,tapi diri dan dunia hanya sebagai tubuh Brahmana. Di luar Brahmana tidak ada apa-apa. Itulah sebabnya teori Ramanuja disebut nondualisme dengan perbedaan, yaitu satu Brahman memiliki dua bentuk: Diri dan Materi.
Keselamatan bukan penghayutan diri dalam Brahman, melainkan pembebasan diri dari hambatan-hambatan. Setinggi apapun manusia merealisasikan diri, tuhan masih lebih tinggi. Manusia harus selalu menghormati Tuhan. Itulah sebabnya, Ramanuja menekankan aspek kebaktian kepada Tuhan.
3.    Madhava:
Bersifat dualistis. Dunia, diri, dan Brahmana merupakan eksistensi abadi, tapi dunia dan diri itu tergantung pada Brahman. Brahman memiliki segala kesempurnaan dan digambarkan sebagai Visnu.
Aliran ini mengajarkan bahwa individu dan alam adalah realitas independen. Timbulnya persoalan: bagaimana Brahmana mengontrolnya? Jawaban: dengan konsep Sakti (energy Brahman). Diri-diri individu dan alam, meskipun independen, merupakan ekspresi atau manifestasi dan Sakti Brahman.

4.    Pasupata, Sakta, dan Pancararatra:   
Ketiganya merupakan sekte yang berlawanan dengan Veda, dalam system Pancaratra. Visnu sama dengan Brahman, tapi atribut-atributnya tak dapat menampakkan diri tanpa Sakti yang dinamakan Laksmi. Sakti ini memiliki dua aspek, yaitu aktifitas dan menjadi (activity and becoming).
Bila Sakti itu aktif, keenam atribut Visnu memanifestasikan diri dalam pengetahuan. Ke-Tuhanan, kemampuan, kekuatan, keperkasaan dan kemuliaan. Dalam  system Pasupata(Saiva). Saiva sama dengan Brahmana dalam Upanishad. Hakikatnya adalah “Aku Murni”, tanpa atribut, tanpa keterangan, kesadaran murni.











BAB III
          PENUTUP
KESIMPULAN
Sejarah filsafat India adalah evolusi pemikiran manusia yang mengarah pada spiritualitas. Saya memilih menulis filsafat India karena budaya Jawa dan mungkin budaya lokal lainnya juga memiliki akar yang sama dengan filsafat India. Jika kita cermati, setiap sistem filsafat berkembang dengan caranya sendiri dan merupakan reaksi dari keadaan yang diramaikan dengan perbedaan interpretasi akan nilai hidup. Bentuk primitif agama, pada mulanya adalah pemujaan keluar, yang lebih sebagai sandaran psikologis dalam diri manusia, lalu menjadi mengarah kedalam, mengarah pada pemahaman diri, yang membawa transformasi diri yang lebih baik. Memanglah tepat istilah Jawa “ageman”. Agama memang hanya pakaian (baca: ageman), hanya bentuk luar, yang didalamnya mesti ada refleksi diri dan pencarian ke dalam. Walaupun demikian, pencarian spiritual tidak bisa dipaksa, diatur secar mekanis, atau juga dijadikan standar moral tertentu. Seperti yang dikatakan Mudji Sutrisno, “...filsafat Timur lebih berupa suatu penawaran yang praktis mengenai kebahagiaan manusia. Orang tetap bebas menghadapi penawaran ini.”
Yang Real hanyalah Brahman, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada realitas di luar Brahman. Brahman adalah satu-satunya realitas. Manusia dan dunia ini adalah percikan dari Brahman, artinya bahwa manusia dan dunia sama dengan Tuhan sekaligus berbeda.

Hakekat manusia adalah Roh atau Atman yang merupakan percikan dari Brahman. (Tat Twam Asi).Setiap manusia adalah bersaudara, oleh karena sama-sama merupakan Atman, percikan dari Brahman. Manusia di dunia ini adalah manusia yang jatuh yang awidya, yang tidak berpengetahuan, yang lupa akan dirinya yang sejati. Tujuan hidup manusia adalah pembebasan atau moksa, yaitu kembali kepada dirinya yang sejati, yaitu menyatu kepada Tuhan.

Untuk kembali kepada dirinya yang sejati ditawarkan empat jalan yang dibenarkan untuk dipilih oleh seseorang sesuai dengan bakat dan kemampuannya yang dikenal dengan Catur Marga, yaitu : Jnana Marga, mencapai pembesan dengan jalan ilmu pengetahuan, Karma Marga, mencapai pembebasan lewat jalan berkarya, berbuat. Bahwa segala perbuatan dan karyanya ditujukan untuk mencapai pembebasan itu sendiri; Bhakti Marga yaitu pembebasan yang dicapai lewat jalan Bhakti, yaitu mengabdikan seluruh hidupnya untuk memuliakan Tuhan itu sendiri; Yoga Marga, yaitu mencapi pembebasan lewat jalan meditasi, yaitu mengkonsentrasikan pikirannya pada Tuhan lewat delapan tahapan Yoga (astangga yoga).

Dengan demikian secara intrinsic dapat dikatakan bahwa manusia dalam hidupnya di dunia ini, adalah “tugas”. Tugas yang harus diselesaikannya, yang harus dijalankannya. Berarti pula bahwa hakekat hidup manusia adalah berbuat, berkarma, sesuai dengan kemampuannya. Berkarma berarti pula harus lebih banyak member daripada meminta. Memberi mengandung pengertian bahwa semakin banyak member semakin baik, oleh karena sekaligus menunjukkan bahwa seseorang itu kuat. Setiap orang harus menjadi manusia yang kuat bukan menjadi manusia yang lemah, yang harus dibantu oleh manusia yang lainnya. Semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menuju pembebasan.

Cepat dan lambatnya seseorang mencapai pembebasan sangat tergantung dari “karma” nya. Ada hukum yang mengatur karma ini yaitu Hukum Sebab Akibat atau Hukum Karma. Anda akan menuai, apa yang anda tanam. Menanam jagung akan menuai jagung. Anda akan menuai apa yang anda tanam. Menanam kejahatan akan menuai kesengsaraan, menanam kebaikan akan menuai kebahagiaan. Ada tiga jenis hukum karma sesuai dengan pahala atau buah yang akan diterimanya bila dikaitkan dengan waktu. Perbuatan anda sekarang akan anda petik hasilnya sekarang juga; perbuatan anda sekarang anda akan petik nanti dalam kehidupan yang akan dating; apa yang anda petik sekarang adalah buah karma atau perbuatan dari kehidupan anda yang lalu. Hukum Karma adalah hukum yang paling adil yang pernah dikenal oleh manusia.

Konsep filsafat India tentang waktu, merupakan waktu yang kita kenal seperti saat ini, yang be rsifat linier yang berjalan dari masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan dating, namun dikenala pula waktu yang bersifat siklus, yang merupakan pengulangan. Hal ini dimungkinkan oleh karena Atman (roh) itu adalah kekal dan belum akan kembali menyatu dengan Tuhan (Brahman) kalau masih terikat oleh badan, sehingga muncul konsep kelahiran berulang-ulang (reinkarnasi, menitis, tumimbal lahir).

Manusia itu tidak dimaksudkan untuk menjadi manusia serakah, yang ingin mendapatkan kesejahteraan materiil secara berlebihan. Manusia harus memenuhi kebutuhannya seperlunya, secukupnya secara wajar dan tidak berlebihan. Veda mengajarkan bahwa apa yang tersedia di dunia ini bukan semata-mata hak kita yang sedang hidup ini, namun juga merupakan hak dari mereka yang akan terlahir di dunia ini. Dan itu semua merupakan sarana saja untuk menuju tujuan akhir hidup manusia yaitu moksa.


Berbicara masalah Tuhan, konsep Tuhan menurut Veda yaitu transenden sekaligus imanen, personal sekaligus impersonal. Menurut pemikiran Veda Tuhan dengan konsep yang manapun didekati oleh penyembahnya adalah sah-sah saja. Tidak ada satupu yang dapat mengklaim dirinya sebagai orang yang paling tinggi tingkat spiritualitasnya dan paling benar. Ada satu ungkapan setiap manusia adalah Vasudeva Kutumbakam. Setiap  adalah percikan dari Vasudeva, Tuhan Yang Maha Esa, sehingga setiap manusia adalah bersaudara dan setara. Dengan demikian pemikiran ini memungkinkan menerima Tuhan sebagain Jesus, sebagai Buddha, sebagai Allah, Hyang Widhi, Brahman.